Umat Kristiani tidak bersatu untuk Israel 07.07.2026

Artikel ini, yang ditulis oleh seorang Kristen keturunan Palestina-Amerika, mengkritik Christians United for Israel (CUFI) dan teologi Zionisme Kristen karena mencampuradukkan dukungan terhadap negara Israel modern dengan kesetiaan alkitabiah. Penulis berargumen bahwa kerangka kerja ini memperlakukan posisi politik sebagai ketetapan ilahi, sehingga membuat pengawasan moral terhadap kebijakan Israel—termasuk ekspansi pemukiman dan perang di Gaza—tampak seperti pemberontakan terhadap Tuhan. Tulisan ini membedakan antara bangsa Yahudi, Israel alkitabiah, dan negara Israel modern, serta menegaskan bahwa tidak ada pemerintah yang kebal dari penilaian moral. Artikel ini mengutip survei Pew Research Center yang menunjukkan penurunan dukungan terhadap Israel di kalangan umat Kristiani Amerika, termasuk evangelis kulit putih. Penulis menyerukan iman yang menentang antisemitisme dan kebencian terhadap Muslim, menolak ketidakadilan, serta memprioritaskan kebenaran, belas kasih, dan perdamaian di atas kesetiaan buta terhadap negara mana pun.












